August 1, 2010

Weekend Yang Penuh Suka Duka

Kali ini aku akan menceritakan tentang akhir pekanku yang penuh dengan suka duka, why?
Kalau ditanya kapan sih, weekend anda?
Weekend saya adalah setiap hari sabtu dan minggu, karena senin-jumat saya abiskan dengan kerja dan kerja. Yap, itulah keseharian saya –Work Hard, Play Hard, Study Hard-.
Weekend kali ini mungkin yang paling berkesan adalah di hari minggu ini, yakni tanggal 1 Agustus 2010. Why?

Bermula dari Jam 00.30 WIB, disaat itu aku sedang tidur pulas-pulasnya, soalnya malam minggu ini hanya aku abiskan kongkow-kongkow dengan kawan dekat rumah saja. Yakni hanya sampai jam 21.30 WIB saja, lalu saya tidur sampai jam 00.30 WIB.
Anda pasti bertanya ada apa dengan 00.30 WIB? Pada jam segitu aku dibangunkan oleh ayahku, untuk menemani ayahku ke rumah uwak (kakak dari ayah). Awalnya aku sangat malas menemani ayahku, tapi karena ayahku memaksa dan berkata ini sangat urgent jadi apa boleh buat aku harus menemani ayahku ini.
Aku kaget bukan kepalang, tiba-tiba ayahku membawa tabung oksigen dan alat pernafasan ke mobilnya. Aku bertanya ke ayahku, tapi ayahku masih tetap saja membisu dan kelihatan panik bagai disambar petir.
Ayahku sudah dimobil, lalu aku disuruh untuk membuka pintu garasi, pagar rumah dan portal gang. Ok, semua sudah terlaksana dengan baik. Lalu aku dan pamanku lalu masuk mobil.
Disepanjang perjalanan, aku terus menanyakan kepada ayahku “mengapa membawa tabung oksigen?
Ayahku hanya menjawab “uwakmu sedang sekarat di rumahnya”
Ayahku kali ini benar-benar panik, bayangkan saja rute rumahku (wisma asri) sampai Tambun hanya dipacu dengan waktu 30 menit. Sungguh fantastik bukan. (waktu normal bisa sampai 1,5 jam)
Akhirnya sampai juga dirumah uwakku, aku dengan menggotong tabung oksigen tersebut disuruh cepat-cepat karena rumah uwakku dari depan gang hingga kerumahnya cukup jauh.
Waktu menunjukan jam 1.15 WIB, aku sampai ke tempat kamar uwakku. Kaget sambil geleng-geleng kepala melihat keadaan uwakku yang geletak tanpa sadar.
Ayahku : bhan, buruan pasang oksigen tersebut ke hidung uwakmu, lalu periksa keadaannya
Aku : siap pak
Aku, pamanku dan ayahku periksa keadaannya, lalu aku merasa adanya kejanggalan yang terjadi. Tubuh uwakku sudah biru dan dingin, tapi nadi ditenggorokannya masih sedikit berfungsi.
Aku laporkan ke ayahku apa adanya dan Ayahku juga berpikiran sama sepertiku dengan jawaban adalah bahwa uwakku sudah tidak dapat tertolong lagi, kalau pun ada miracle (keajaiban) yang terjadi itulah hanya kebetulan saja.
Ayahku tiba-tiba didekati oleh seorang tetangga uwakku bahwa uwakku sudah tiada, tapi dia hanya bilang ke ayahku saja. Untuk memastikan kebenarannya, ayahku memanggil dokter sekitar. Tapi apa boleh buat ternyata dokternya ditunggu baru muncul sekitar jam 02.30 WIB.
Sama seperti yang kuduga bahwa jawaban dokter itu adalah nyawa uwakku sudah tidak dapat tertolong lagi. Karena genetik dari saudara ayahku dan termasuk ayahku sendiri memiliki penyakit sama semua, yakni : Darah tinggi dan Jantung.
Aku tidak dapat membayangkan, jika hal ini terjadi dan menimpa ayahku. Naudzubillah.
Waktu sudah menunjukan jam 04.00 WIB, aku dan ayahku pulang dulu untuk mengajak Ibuku dan Saudara ayahku yang lain.
Pagi-pagi aku diajak untuk kembali ke rumah uwakku, tapi karena hari tersebut di rumahku juga akan diadakan arisan keluarga dari keluarga ibuku. Jadi, aku dan adikku tidak berniat ikut ke rumah uwakku melainkan aku membereskan rumah dan persiapan untuk acara tersebut.
Kami membereskan rumah dan persiapan acara hingga pukul 11.30, untungnya kami dibantu oleh pembantu, saudara sepupu, dan beberapa tante kami.
Pukul 12.00 semua sudah siap, mulai masakan yang dipesan dan masakan yang dibuat oleh pembantu dan beberapa tanteku.
Kira-kira pukul 12.30 ayahku dan ibuku pulang dengan membawa rombongan saudara ayahku. Dan pada pukul 13.00 satu persatu rombongan dari saudara ibuku mulai datang. Kali ini aku dan keluarga sangat senang sekali, karena 2 keluarga besar berkumpul jadi satu. Ini semua karena momentum Arisan dan Uwakku meninggal.
Acara kumpul bersama 2 keluarga besar ini diisi dengan acara pengajian, arisan, ramah tamah, dan makan siang. Acara ini berlangsung hingga pukul 16.30.
Hal yang tak terduga adalah ternyata rumahku mampu diisi oleh 50-90 orang saudaraku. Maklum rumahku adalah 2 rumah tipe 45 yang digabung satu.
Senang hatiku bisa bercengkrama dengan saudara dari ayahku, maklum aku ini lebih sering akrab dengan saudara dari ibuku. Sehingga aku merasa canggung, untuk memulai pembicaraan dengan saudara dari ayahku.
Hingga aku memposting artikel ini, aku sangat senang sekali walaupun capek, letih, dan kurang tidur menjadi satu dengan apa yang kulakukan pada akhir pekan ini, hingga Suka duka menjadi satu dan dapat dijadikan sebuah kisah dalam sebuah artikel curahan hati dalam blog ini.

No comments:

Post a Comment