May 25, 2009

Menanamkan Jiwa Entreprenuer pada Remaja

"Menjadi entrepreneur (pengusaha) itu bukan semata profesi atau pekerjaan. Justru yang lebih penting adalah jiwa dan mentalnya. Jiwa entreprenuer perlu dimiliki oleh semua remaja, meskipun nanti jadi pengusaha atau tidak. Apa saja mental entrepreneur itu dan bagaimana menanamkannya?"

Istilah entrepreneur selalu kita pahami sebatas sebagai jabatan/pekerjaan yang terkait dengan aktivitas memutar uang, berdagang atau bisnis. Padahal, esensinya bukan itu. Entrepreneur adalah soal jiwa atau mental. Walaupun modal ada, tapi kalau mental atau jiwanya bukan entrepreneur, dipastikan modal akan lenyap. Buktinya sudah banyak bukan…..

Seperti apa sih mentalitas seorang entrepreneur itu? Secara umum, ciri-ciri mentalitas entreprenuer adalah:

  1. Memiliki kemandirian dalam memotivasi diri
  2. Cermat dalam menghitung risiko saat mengambil keputusan
  3. Bisa memberdayakan potensi dan peluang
  4. Punya keberanian, kreatif, dan inovatif
  5. Membuka diri untuk terus belajar
  6. Tahan banting dalam berbagai masalah, kondisi, dan situasi
  7. Terampil dalam menjalin hubungan dengan orang lain

Jika hal-hal di atas sudah mulai ditanamkan. Berarti kita sudah terbekali dengan mentalitas entrepreneur. Apa berarti kita nantinya harus menjadi pengusaha atau tak lagi menjadi orang yang gajian? Soal pekerjaan atau profesi, ini bukan patokan. Mungkin ya, mungkin tidak. Apalagi kalau kita melihat biografi para pengusaha, mereka menjadi pengusaha karena berbagai hal dan latar belakang.

Sebagai contoh, pengusaha nasional Rahmat Gobel, sejak di SMA sudah diprogram ayahnya untuk melanjutkan usahanya. Pimpinan Jawa Pos Dahlan Iskan mengaku menjadi pengusaha karena ketularan atasannya sewaktu menjadi karyawan. Mantan Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Sandiaga Uno menjadi pengusaha karena "kecelakaan" dalam karirnya. Bos Bakmi Japos Hengky Jhoa menjadi pengusaha karena dendam terhadap kemiskinan.

Terlepas latar belakang dan alasan yang berbeda-beda, namun mereka punya satu kesamaan: mereka telah dilatih untuk mempraktikkkan mentalitas entrepreneur, entah dari orang tuanya, lingkungan, atau dirinya sendiri. Intinya, mereka menjadi pengusaha bukan karena nasib atau takdir yang kesannya given (di anugerahi tanpa sebab). Melainkan karena achievement (pencapaian).

Menurut pengalaman pengusaha kawakan Bob Sadino, untuk menjadi pengusaha itu dibutuhkan dua modal: tangible (modal materi) dan intangible (modal mental). Keduanya penting, tapi kalau berbicara mana yang harus lebih dulu dimiliki, jawabnya adalah modal mental. Ini berbeda dengan orang yang belum jadi pengusaha. Kebanyakan lebih menomorsatukan modal material.

(di adaptasi dari majalah edukasia edisi VI 2009)

No comments:

Post a Comment